Aku diam mematung, dirundung kaget yang menggunung. Airmata berduyun-duyun
datang dan berkumpul untuk mengalir bersama. Sungguh aku tak mengerti, kenapa
Ahmed tega menyembunyikan kenyataan bahwa ia telah mempunyai seorang anak.
Jadi Ahmed seorang duda? Tapi, kapan ia
menikah? Dengan siapa menikah? Kapan bercerai dan kenapa?
Dan yang tak kalah penting, kenapa tak berterus-terang dengan statusnya?
Kejutan bahagia yang tadi ia bawa, pelan tapi pasti menjadi blur, bagai tinta
di atas kertas yang terkena air. Hahh, betapa dekat jarak kebahagiaan dan
kesedihan.
“Apa yang kamu pikirkan, ha?”
Tahu-tahu Ahmed telah kembali ke hadapanku dan